//
you're reading...
Pendapat / Opinion

‘El Classico Melayu’ dan kebablasan media Indonesia

suzuki cup

Pada Sabtu, 1 Disember baru lepas berlangsung perlawanan bola sepak “El Classico Melayu” mempertemukan Malaysia dan Indonesia. Istilah yang diambil dari el classico antara Real Madrid melawan Barcelona ini diungkap oleh Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia (DPR), Pramono Anung dan kemudiannya dipopularkan media di Indonesia. Seperti diketahui gelaran “Melayu” telah dimiliki Malaysia setelah menang 2 gol tanpa balas bersaksikan 85,000 penonton yang memadati Stadium Nasional di Bukit Jalil.

Satu angka jumlah penonton yang luar biasa memandangkan laga ini adalah aksi peringkat kumpulan.
Jika diimbas kembali, 1 Disember 2010 Indonesia telah melibas Malaysia 5-1 di Stadium Gelora Bung Karno di Jakarta dan 2 tahun kemudian skrip telah berubah. Pertemuan “El Classico Melayu” baru lalu merupakan edisi ke-65 dalam semua pertandingan di mana dari 64 perlawanan sebelumnya; Indonesia menang 29 kali, Malaysia 25 kali dan seri 15 kali. Tewasnya Indonesia di tangan Malaysia sekaligus menyingkirkan mereka dari Piala AFF Suzuki 2012.

Media Indonesia

Permusuhan Malaysia Indonesia tidak hanya berlaku di atas padang, malah di luar padang. Seperti biasa, media di Indonesia seperti TV One menanggapi berlebihan video ejekan “Indonesia itu anjing” yang dinyanyikan kelompok Ultras Malaya yang tersebar di dunia maya sehingga memancing kemarahan segelinitir ahli politik murahan seperti Ketua DPR, Marzuki Alie. Beliau dalam pernyataannya yang dikutip banyak media, “Sudah bukan waktunya lagi kita biarkan.

Saya minta PSSI mempertimbangkan untuk bertanding dengan Malaysia di Malaysia, bila perlu protes keras ke APPF dan minta agar Malaysia diberi sanksi keras, atau dikeluarkan dari kompetisi. Kita sebagai bangsa yang bermartabat tidak boleh membiarkan bangsa lain menghina kita. Saya selama ini mencoba memahami setiap kejadian dengan kesabaran sebagai bangsa yang bersahabat dan bersaudara”. Keras dan emosional sekali si Marzuki ini.

Anehnya sewaktu bendera Malaysia dibakar dan lagu “Negaraku” diboo semua diam membisu dan kadang diberi justifikasi kerana katanya Malaysia negara maling.

Pemberitaan sensasi media di Indonesia terkait insiden ejeken dan pemukulan penyokong mereka yang kemudian dikutip, disebar dan dipercayai tanpa soal membangkitkan kemarahan rakyat Indonesia yang dapat dilihat dengan berhamburan makian di dunia maya yang kemudian bertukar menjadi perang caci maki di antara Malaysia dan Indonesia.

Berdasarkan pemerhatian dan pengalaman, lontaran caci maki sering kali dilakukan oleh rakyat kedua negara yang belum tercerahkan dengan fakta sebenar di masing-masing negara. Sedih juga melihat ramai di Malaysia terpancing dengan ejekan-ejekan lantas melakukan hal yang sama. Barangkali pelancong Malaysia yang sudah ke Indonesia dan sebaliknya boleh menjadi jambatan mempromosikan perdamaian berlandaskan fakta.

Dalam kolum “Surat dari Kuala Lumpur” di tablod Bola, wartawan Ario Yosla menulis dengan positif, “Sempat ada kekhawatiran dari rombongan suporter yang ikut program Malaysian Tourism Board ke Bukit Jalil kalau mereka akan diteror oleh suporter tuan rumah. Nyatanya saat berada di area stadion mereka melihat sendiri bahwa berita-berita negatif yang menyebar hingga ke dunia maya hanya kabar bombastis. Suporter Indonesia dan Malaysia bisa akur berdampingan memberikan dukungan”.

Penulisan seperti ini diharap menjadi dominan seterusnya mencerahkan rakyat Indonesia yang selama ini dipermain rasa nasionalisme dan amarahnya. Dalam hal ini, jujur media di Malaysia jauh lebih baik dengan tidak mengkedepankan pemberitaan yang mengadu domba sebaliknya bersifat menjernihkan.

Apa guna membanggakan kebebasan media jika yang dibanggakan adalah kebablasan media. Nasihin Masha, penulis di Republika Online dalam kolumnya dengan tepat memetik kata-kata Datuk Syed Munshe Afdzaruddin, Duta Besar Malaysia untuk Indonesia, “Di Indonesia, politisi yang mengecam Malaysia mendapat dukungan. Sedangkan di Malaysia justru tak didukung. Sikap media di Malaysia, katanya, juga cenderung positif”.

Lebay

“Lebay” adalah kata popular di kalangan anak muda Indonesia terutama anak Jakarta yang membawa erti sikap berlebihan atau over dan barangkali mirip dengan poyo. Perbalahan Malaysia dan Indonesia dalam segala isu adalah contoh terbaik gejala “lebay” kerana telah menguras banyak tenaga rakyat kedua-dua negara dalam hal yang kurang penting. Hal paling penting baik di Malaysia atau Indonesia adalah masing-masing punya persoalan yang lebih bermartabat terkait keadilan dan kesejahteraan sosial yang semakin terpinggirkan.

Indonesia dalam membenci Malaysia jangan sampai terlena sehingga membiarkan elit politik dan kapitalis haloba seenaknya merompak harta kekayaan negara. Nasionalisme tidak bererti jika negara gagal mensejahterakan rakyatnya. Tekanan kepada pemerintah untuk membasmi rasuah dan menyediakan lapangan pekerjaan wajib diperkuat. Begitu juga Malaysia, dalam keghairahan menuntut demokrasi dan kebebasan jangan seenaknya memperlakukan kejam pekerja asing termasuk dari Indonesia seolah-olah menindas mereka adalah hak.

Indonesia harus memberikan contoh kebebasan media yang baik kerana kebablasan akan menyukarkan para pejuang kebebasan di Malaysia menuntut hak mereka. Namun andai Malaysia berubah, satu hal pasti mengurus kebebasan adalah kerja rumah yang wajib diberi perhatian.

Apa yang perlu dikedepankan adalah solidariti dan dukungan melawan kezaliman dan penindasan yang sifatnya bebas sempadan negara. Jika dalam isu kemanusiaan di Palestin kita boleh bersatu, mengapa dalam isu titik bengik kita berlebihan menyikapinya?

Nyata kita semua “Lebay” kerana prestasi sukan bola sepak Malaysia dan Indonesia tiada apa-apa di pentas dunia, lain kisahnya kalau kita berlebihan dalam sukan badminton yang sejak berpuluh tahun telah kita “Melayu”.-tmi

About KLdaily

Paparan Berita, Pendapat, Rakaman Fakta, Gossip - Politik dan Sosial

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: